Latar Belakang: Pneumonia merupakan infeksi saluran napas akut yang menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di bawah lima tahun, baik secara global maupun nasional. Prevalensinya masih tinggi, termasuk di Provinsi Sulawesi Utara. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang efektif dalam membantu mengeluarkan sekret pada pasien pneumonia adalah latihan batuk efektif. Latihan ini bertujuan memperkuat otot pernapasan, meningkatkan ventilasi paru, dan mempermudah elimina...
Latar Belakang: Pneumonia merupakan infeksi saluran napas akut yang menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di bawah lima tahun, baik secara global maupun nasional. Prevalensinya masih tinggi, termasuk di Provinsi Sulawesi Utara. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang efektif dalam membantu mengeluarkan sekret pada pasien pneumonia adalah latihan batuk efektif. Latihan ini bertujuan memperkuat otot pernapasan, meningkatkan ventilasi paru, dan mempermudah eliminasi sekret. Namun, hasil observasi awal menunjukkan latihan batuk efektif belum dilaksanakan secara optimal dalam manajemen keperawatan anak dengan pneumonia di RSU GMIM Pancaran Kasih Manado. Tujuan dan Metode: Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan latihan batuk efektif terhadap peningkatan eliminasi sekret pada anak dengan pneumonia. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus, meliputi tahapan asuhan keperawatan mulai dari pengkajian, penetapan diagnosis, perencanaan, implementasi, hingga evaluasi. Intervensi latihan batuk efektif dilakukan sebanyak tiga kali sehari selama tiga hari berturut-turut, dengan teknik yang disesuaikan pada anak usia 4 tahun. Hasil dan kesimpulan: Latihan batuk efektif dilaksanakan 3 kali sehari selama 3 hari. Hari pertama sebelum tindakan diperoleh hasil frekuensi napas 42 kali/menit, saturasi oksigen 95%, suhu tubuh 38°C, tekanan darah 120/80 mmHg, pasien tampak sesak, batuk berdahak namun sekret sulit keluar, suara napas ronki basah halus, dan pasien terlihat lemas. Setelah tindakan hari pertama, saturasi oksigen meningkat menjadi 96%, frekuensi napas menurun menjadi 40 kali/menit, pasien mulai mampu mengeluarkan sebagian sekret, sesak berkurang, dan anak terlihat lebih nyaman. Hari kedua sebelum tindakan frekuensi napas 40 kali/menit, saturasi 96%, suhu tubuh 37,5°C, sekret mulai berkurang namun masih ada, anak tampak lebih aktif. Setelah tindakan hari kedua, saturasi naik menjadi 97%, frekuensi napas 38 kali/menit, suara ronki berkurang, sekret berkurang banyak, dan pasien mampu batuk lebih kuat. Hari ketiga sebelum tindakan frekuensi napas 38 kali/menit, saturasi 97%, suhu tubuh 37°C, sekret sangat sedikit, dan pasien tampak aktif. Setelah tindakan hari ketiga, kondisi pasien stabil, tidak sesak, saturasi tetap 97%, frekuensi napas tetap 38 kali/menit, tidak ditemukan ronki, dan sekret sudah hampir tidak ada. Implementasi terapi latihan batuk efektif dapat meningkatkan eliminasi sekret, menurunkan frekuensi napas, memperbaiki saturasi oksigen.