Pengaruh kombinasi Perawatan Payudara dan Pijat Oksitosin terhadap Produksi Asi pada Ibu Post Partum Sectio Caesarea di Rs Bhayangkara Tk III Manado
- Tahun terbit
- 2026
- Jenis naskah
- Skripsi
- Bahasa
- Indonesia
- No. panggil
- SKR KEPERAWATAN 2026
- Penerbit
- Manado : Poltekkes Kemenkes Manado
- Deskripsi fisik
- Xii,79hlm: ilustrasi ; 27cm
- Klasifikasi
- NONE
- Berkas dibaca
- 22 kali
- Dikutip
- 0 kali
- Pernyataan tanggung jawab
- Pricilia Mutiara Djalali;Esther N. Tamunu;Moudy Lombogia
Abstrak
Djalali Mutiara Pricilia 2026, Pengaruh kombinasi perawatan payudara dan pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu post partum sectio caesarea di Rs Bhayangkara Tk III Manado(Dimbimbing oleh Esther N Tamunu.sebagai Pemmbimbing I dan Moudy Lombogia. sebagai Pembimbing II)\r\n\r\nABSTRAK\r\n\r\n Masalah ketidaklancaran produksi ASI sebagian besar dialami oleh ibu post partum dengan sectio caesarea sebanyak 82% .Hal ini disebabkan karena adanya nyeri pada lokasi jahitan menghambat produksi prolaktin dan oksitosin. Tindakan anastesi pasca sectio caesarea juga dapat menyebabkan terganggunya proses menyusui. Fenomena yang ada bahwa sebagian besar ibu post partum dengan post sectio caesarea tidak mampu memproduksi ASI dengan lancar dibandingkan dengan ibu yang melahirkan normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh kombinasi perawatan payudara dan pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu post partum sectio caesarea di RS Bhayangkara Tk. III Manado.\r\n Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan quasi experiment dan desain time series. Sampel berjumlah 30 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi. Intervensi berupa kombinasi perawatan payudara dan pijat oksitosin diberikan selama periode penelitian, kemudian produksi ASI diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan lembar observasi. Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test karena data tidak berdistribusi normal. \r\n Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar responden berada pada kategori produksi ASI kurang, yaitu 70,0% pada hari pertama, 56,7% pada hari kedua, dan 6,7% pada hari ketiga. Setelah intervensi terjadi peningkatan produksi ASI, dibuktikan dengan tidak adanya responden pada kategori ASI kurang dan sebanyak 73,3% responden berada pada kategori ASI banyak pada hari ketiga. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p-value hari pertama 0,025, hari kedua 0,001, dan hari ketiga 0,002 (p