Media alternatif tepung pisang goroho (musa acuminafe) untuk pertumbuhan dan identifikasi morfologi jamur dari spesimen sputum
- Tahun terbit
- 2026
- Jenis naskah
- Karya Tulis Ilmiah
- Bahasa
- Indonesia
- No. panggil
- KTI TLM 2026
- Penerbit
- Manado : Poltekkes Kemenkes Manado
- Deskripsi fisik
- xiv, 89 hlm : ilustrasi ; 27 cm
- Klasifikasi
- NONE
- Berkas dibaca
- 24 kali
- Dikutip
- 0 kali
- Pernyataan tanggung jawab
- Faril Josua Sualang; Sabrina Priscillya Magdalena Pinontoan; Dionysius Sumenge
Abstrak
ABSTRAK\r\nMedia alternatif pertumbuhan jamur merupakan media pengganti yang dibuat dengan memanfaatkan bahan yang lebih mudah diperoleh, memiliki kandungan nutrisi serupa, serta biaya yang lebih terjangkau dibandingkan media standar. Pisang goroho, tanaman endemik Sulawesi Utara, memiliki potensi sebagai bahan dasar media alternatif karena kandungan nutrisinya yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan media alternatif berbahan tepung pisang goroho dalam mendukung pertumbuhan dan identifikasi jamur dari spesimen kuku yang terinfeksi.\r\nPenelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan desain Nonequivalent Control Group, yang membandingkan media alternatif Pisang Goroho Agar (PGA) dengan media standar Potato Dextrose Agar (PDA). Pisang goroho yang berasal dari Desa Kaima, Kecamatan Kauditan, Sulawesi Utara, diolah menjadi tepung melalui proses pengeringan menggunakan oven. Tepung pisang kemudian diformulasikan dengan dextrose, agar, dan akuades dalam lima konsentrasi, yaitu 0,1%, 0,2%, 0,3%, 0,4%, dan 0,5%. Pertumbuhan jamur diamati dan hasilnya disajikan secara deskriptif.\r\nHasil penelitian menunjukkan bahwa media PGA mampu menumbuhkan koloni jamur dengan waktu tumbuh yang sebanding dengan PDA, yaitu 1×24 jam hingga 2×24 jam tergantung sampel. Jumlah dan diameter koloni pada media PGA bervariasi antar konsentrasi, dengan beberapa konsentrasi (terutama PGA 0,4–0,5%) menunjukkan jumlah koloni yang setara atau bahkan lebih tinggi dibandingkan PDA pada beberapa sampel. Karakteristik morfologi makroskopis (tekstur, permukaan, warna koloni) dan mikroskopis (jenis hifa, bentuk konidia, jumlah sel konidia) yang teramati pada media PGA konsisten dengan yang teramati pada media PDA untuk masing-masing sampel, meskipun terdapat perbedaan karakteristik antar spesimen yang mengindikasikan jenis jamur yang berbeda. Dapat disimpulkan bahwa tepung pisang Goroho berpotensi digunakan sebagai media alternatif pengganti PDA untuk pertumbuhan dan identifikasi morfologi jamur dari spesimen sputum.