Gambaran Pola Konsumsi Pangan Lokal Berserat Sebagai Upaya Pencegahan Diabetes Melitus Pada Mahasiswa Jurusan Giz
- Tahun terbit
- 2026
- Jenis naskah
- Karya Tulis Ilmiah
- Bahasa
- Indonesia
- No. panggil
- KTI GIZI 2026
- Penerbit
- Manado : Poltekkes Kemenkes Manado
- Deskripsi fisik
- xiv, 75 hlm : ilustrasi ; 27 cm
- Klasifikasi
- NONE
- Berkas dibaca
- 15 kali
- Dikutip
- 0 kali
- Pernyataan tanggung jawab
- Dewi sandra arada; Vera T. Harikedua; Daniel Robert
Abstrak
Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang dapat dicegah melalui penerapan pola makan sehat, salah satunya dengan mengonsumsi pangan lokal tinggi serat. Serat pangan merupakan salah satu komponen makanan yang penting dalam pola makan sehat. Mahasiswa Jurusan Gizi sebagai calon tenaga kesehatan diharapkan memiliki kebiasaan mengonsumsi pangan tinggi serat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis pangan lokal tinggi serat yang dikonsumsi dan mengetahui frekuensi konsumsi pangan lokal tinggi serat pada mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Manado.\r\nPenelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 30 mahasiswa tingkat satu Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Manado yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) untuk mengetahui jenis dan frekuensi konsumsi pangan lokal tinggi serat. Data yang diperoleh dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase.\r\nHasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pangan lokal tinggi serat yang dikonsumsi responden meliputi kangkung, tomat, pisang, jeruk, kol/kubis, dan semangka. Kangkung merupakan jenis pangan yang paling banyak dikonsumsi, yaitu sebanyak 26 responden (86,7%), sedangkan semangka merupakan jenis pangan yang paling sedikit dikonsumsi, yaitu sebanyak 16 responden (53,3%). Berdasarkan frekuensi konsumsi, sebanyak 26 responden (86,7%) termasuk kategori sering (≥3 kali/minggu), sedangkan 4 responden (13,3%) termasuk kategori jarang (