Diabetes melitus merupakan penyakit kronis dengan jumlah kasus yang terus \r\nmeningkat sehingga memerlukan upaya pengobatan yang efektif dan aman. \r\nPengembangan terapi berbahan alam menjadi salah satu alternatif untuk \r\nmengurangi penggunaan obat sintetis dalam jangka panjang. Akar Bandotan \r\n(Ageratum conyzoides L.) mengandung senyawa bioaktif yang diduga memiliki \r\naktivitas antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas \r\nantidiabetes ekstrak akar Bandotan pad...
Diabetes melitus merupakan penyakit kronis dengan jumlah kasus yang terus \r\nmeningkat sehingga memerlukan upaya pengobatan yang efektif dan aman. \r\nPengembangan terapi berbahan alam menjadi salah satu alternatif untuk \r\nmengurangi penggunaan obat sintetis dalam jangka panjang. Akar Bandotan \r\n(Ageratum conyzoides L.) mengandung senyawa bioaktif yang diduga memiliki \r\naktivitas antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas \r\nantidiabetes ekstrak akar Bandotan pada tikus putih (Rattus norvegicus). \r\nPenelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan \r\nrancangan Posttest Control Group Design. Ekstrak akar Bandotan diperoleh \r\nmelalui metode maserasi menggunakan etanol 70%. Sebanyak 20 ekor tikus putih dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kontrol negatif (Na-CMC 0,5%), kontrol positif (metformin), ekstrak etanol akar Bandotan dosis 200 mg/kgBB, dan dosis 400 mg/kgBB. Diabetes diinduksi menggunakan diet tinggi lemak, fruktosa, dan streptozotocin (STZ). Kadar glukosa darah diukur setelah perlakuan selama 7 hari dan dianalisis secara deskriptif menggunakan uji Welch ANOVA, dilanjutkan uji Games-Howell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi akar Bandotan menghasilkan ekstrak dengan rendemen sebesar 18,6%. Pemberian ekstrak akar Bandotan dosis 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB mampu menurunkan kadar glukosa darah dibandingkan kontrol negatif. Uji Welch ANOVA menunjukkan perbedaan yang bermakna antar kelompok (p