Penggunaan antibiotik yang tidak rasional merupakan salah satu faktor utama yang dapat memicu terjadinya resistensi bakteri. Kondisi ini umumnya dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai indikasi, cara penggunaan yang benar, serta kemungkinan efek samping antibiotik. Tingkat pengetahuan yang memadai memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan terapi sekaligus mencegah berkembangnya resistensi antibiotik. Berdasarkan hasil survei pendahuluan di Desa Awer, ditemuka...
Penggunaan antibiotik yang tidak rasional merupakan salah satu faktor utama yang dapat memicu terjadinya resistensi bakteri. Kondisi ini umumnya dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai indikasi, cara penggunaan yang benar, serta kemungkinan efek samping antibiotik. Tingkat pengetahuan yang memadai memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan terapi sekaligus mencegah berkembangnya resistensi antibiotik. Berdasarkan hasil survei pendahuluan di Desa Awer, ditemukan bahwa sebagian masyarakat masih menggunakan antibiotik secara bebas untuk mengatasi keluhan seperti nyeri maupun demam tanpa mempertimbangkan indikasi yang tepat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan masyarakat tentang antibiotik di Desa Awer Kecamatan Sahu Timur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah masyarakat Desa Awer Kecamatan Sahu Timur, dengan jumlah sampel 69 responden. Pengambilan sampel dilakukan melalui teknik purposive sampling. Data yang diperoleh kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan di deskripsikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang antibiotik di Desa Awer Kecamatan Sahu Timur dengan kategori kurang sebanyak 44 responden (63,77%), kategori cukup sebanyak 15 responden (21,74%) dan kategori baik sebanyak 10 responden (14,49%). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang antibiotik di Desa Awer Kecamatan Sahu Timur adalah kurang. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya edukasi dan penyuluhan kesehatan mengenai penggunaan antibiotik yang tepat, sehingga pengetahuan masyarakat belum berkembang secara optimal.