Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten sehingga menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat. Ketidaktepatan penggunaan antibiotik sering kali disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai indikasi, aturan penggunaan, serta risiko resistensi antibiotik. Pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotik sangat berperan dalam mendukung keberhasilan terapi dan mencegah terjadinya resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk me...
Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten sehingga menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat. Ketidaktepatan penggunaan antibiotik sering kali disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai indikasi, aturan penggunaan, serta risiko resistensi antibiotik. Pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotik sangat berperan dalam mendukung keberhasilan terapi dan mencegah terjadinya resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotik di Desa Miulu Kecamatan Tabukan Tengah Kabupaten Kepulauan Sangihe. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan survei. Jumlah sempel pada penelitian ini adalah 90 responden yang ditentukan menggunakan teknik non-probability sampling dengan jenis purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah disusun berdasarkan tingkat pengetahuan penggunaan antibiotik. Data hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan dideskripsikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotik di Desa Miulu Kecamatan Tabukan Tengah Kabupaten Kepulauan Sangihe berada pada kategori baik sebanyak 24 responden (26,67%), kategori cukup sebanyak 31 responden (34,44%), dan kategori kurang sebanyak 35 responden (38,89%). Dengan demikian, tingkat pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotik di Desa Miulu Kecamatan Tabukan Tengah Kabupaten Kepulauan Sangihe secara umum masih termasuk dalam kategori kurang. Rendahnya tingkat pengetahuan tersebut diduga dipengaruhi oleh kurangnya edukasi atau penyuluhan mengenai penggunaan antibiotik, terbatasnya akses terhadap informasi kesehatan, serta masih adanya kebiasaan masyarakat menggunakan antibiotik tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.