Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama di dunia maupun di Indonesia, terutama pada kelompok geriatri. Proses penuaan dan adanya penyakit penyerta menyebabkan pasien geriatri memerlukan terapi antihipertensi jangka panjang, sehingga pemilihan jenis obat, dosis, dan regimen terapi perlu diperhatikan untuk menjamin efektivitas dan keamanan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan obat hipertensi pada pasien geriatri ra...
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama di dunia maupun di Indonesia, terutama pada kelompok geriatri. Proses penuaan dan adanya penyakit penyerta menyebabkan pasien geriatri memerlukan terapi antihipertensi jangka panjang, sehingga pemilihan jenis obat, dosis, dan regimen terapi perlu diperhatikan untuk menjamin efektivitas dan keamanan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan obat hipertensi pada pasien geriatri rawat jalan di Puskesmas Ulu Siau Kecamatan Siau Timur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif menggunakan data resep dan rekam medis pasien hipertensi geriatri rawat jalan di Puskesmas Ulu Siau Kecamatan Siau Timur periode Januari–Maret 2026. Sampel penelitian berjumlah 78 resep yang dipilih sesuai kriteria penelitian. Data ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar resep pasien hipertensi geriatri memperoleh terapi monoterapi, yaitu sebanyak 97,44%, sedangkan terapi kombinasi hanya sebesar 2,56%. Amlodipin merupakan obat yang paling banyak diresepkan (93,59%), dengan golongan Calcium Channel Blocker (CCB) sebagai golongan antihipertensi yang paling dominan (96,15%). Dosis amlodipin 5 mg merupakan dosis yang paling sering digunakan (62,82%). Dengan demikian, pola peresepan obat hipertensi pada pasien geriatri di Puskesmas Ulu Siau didominasi oleh monoterapi menggunakan amlodipin dari golongan CCB dengan dosis 5 mg.