Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala gangguan persepsi sensori yang sering dialami pasien skizofrenia. Kondisi ini dapat menimbulkan dampak serius terhadap fungsi psikososial serta meningkatkan risiko membahayakan diri dan orang lain. Penatalaksanaan halusinasi umumnya menggunakan terapi farmakologi, namun intervensi non-farmakologis seperti terapi musik mulai dikembangkan karena dinilai lebih aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan terapi musik dalam ...
Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala gangguan persepsi sensori yang sering dialami pasien skizofrenia. Kondisi ini dapat menimbulkan dampak serius terhadap fungsi psikososial serta meningkatkan risiko membahayakan diri dan orang lain. Penatalaksanaan halusinasi umumnya menggunakan terapi farmakologi, namun intervensi non-farmakologis seperti terapi musik mulai dikembangkan karena dinilai lebih aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan terapi musik dalam memperbaiki persepsi sensori pada pasien dengan halusinasi pendengaran di Ruangan Cakalele Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada dua pasien yang didiagnosis skizofrenia dengan gejala halusinasi pendengaran. Intervensi diberikan melalui terapi musik klasik menggunakan headset selama 10–15 menit dalam tiga kali pertemuan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, serta dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan proses keperawatan. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan intensitas halusinasi, ditandai dengan berkurangnya verbalisasi mendengar suara bisikan, peningkatan ketenangan emosional, serta respons sosial yang lebih adaptif. Intervensi ini terbukti mendukung manajemen halusinasi, memperbaiki kondisi psikologis, serta meningkatkan keterlibatan keluarga dalam proses perawatan. Kesimpulan terapi musik dapat menjadi strategi non-farmakologis yang efektif untuk memperbaiki persepsi sensori pada pasien halusinasi pendengaran dan dapat diintegrasikan dalam praktik keperawatan jiwa sebagai terapi pendukung.