Gangguan pendengaran akibat kebisingan merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang sering terjadi pada pekerja yang terpapar bising dalam jangka waktu lama, termasuk Anak Buah Kapal (ABK). Kebisingan di lingkungan kerja kapal penumpang berpotensi menurunkan fungsi pendengaran ABK apabila terjadi secara terus-menerus tanpa pengendalian yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kebisingan, mengidentifikasi gangguan pendengaran, serta menganalisis hubungan tingkat kebising...
Gangguan pendengaran akibat kebisingan merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang sering terjadi pada pekerja yang terpapar bising dalam jangka waktu lama, termasuk Anak Buah Kapal (ABK). Kebisingan di lingkungan kerja kapal penumpang berpotensi menurunkan fungsi pendengaran ABK apabila terjadi secara terus-menerus tanpa pengendalian yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kebisingan, mengidentifikasi gangguan pendengaran, serta menganalisis hubungan tingkat kebisingan dengan gangguan pendengaran pada ABK kapal penumpang tujuan Manado – Siau di Pelabuhan Manado. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi berjumlah 65 ABK dari 5 kapal, dengan sampel sebanyak 30 ABK dari 3 kapal yang berhasil diperiksa. Tingkat kebisingan diukur menggunakan sound level meter dan dikategorikan memenuhi syarat (MS) atau tidak memenuhi syarat (TMS), sedangkan gangguan pendengaran diperiksa menggunakan audiometri dan dikategorikan berdasarkan kategori gangguan pendengaran dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi pada kedua telinga. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat kebisingan sebesar 82,96 dB, dengan 73,3% responden bekerja pada area tingkat kebisingan tidak memenuhi syarat. Gangguan pendengaran kategori sedang ditemukan pada 60,0% responden, kategori ringan 36,7%, dan kategori berat 3,3%. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,208 dengan nilai p sebesar 0,270 (p > 0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat kebisingan dengan gangguan pendengaran pada ABK. Meskipun demikian, tingginya tingkat kebisingan yang melebihi nilai ambang batas tetap berisiko terhadap kesehatan pendengaran ABK sehingga diperlukan upaya pengendalian kebisingan dan penggunaan alat pelindung telinga secara konsisten.\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\r\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\nKata Kunci: Kebisingan, Pendengaran, ABK.