Diabetes Melitus (DM) terjadi akibat gangguan sekresi maupun kinerja insulin dalam tubuh. Selain memicu masalah metabolik kronis, DM erat kaitannya dengan proses inflamasi kronis yang ditandai dengan meningkatnya produksi sitokin proinflamasi, seperti Interleukin-1 Beta (IL-1β). Sitokin ini berperan dalam perusakan sel beta pankreas secara progresif, peningkatan resistensi insulin pada jaringan, hingga memicu berbagai komplikasi diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mendalam ...
Diabetes Melitus (DM) terjadi akibat gangguan sekresi maupun kinerja insulin dalam tubuh. Selain memicu masalah metabolik kronis, DM erat kaitannya dengan proses inflamasi kronis yang ditandai dengan meningkatnya produksi sitokin proinflamasi, seperti Interleukin-1 Beta (IL-1β). Sitokin ini berperan dalam perusakan sel beta pankreas secara progresif, peningkatan resistensi insulin pada jaringan, hingga memicu berbagai komplikasi diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mendalam gambaran kadar IL-1β pada pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Kotobangon, Kota Kotamobagu. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang melibatkan 25 responden penderita Diabetes Melitus dengan menggunakan teknik quota sampling. Pemeriksaan kadar IL-1β dalam darah dilakukan melalui metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dengan pembacaan nilai absorbansi pada panjang gelombang 450 nm. Data hasil laboratorium dianalisis secara deskriptif lalu disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil menunjukkan karakteristik responden didominasi pasien peserta prolanis kelompok usia 60–70 tahun (48,0%), sebagian besar berjenis kelamin perempuan (72,0%), dengan lama menderita 1–5 tahun (56,0%), serta memiliki riwayat kepatuhan pengobatan yang rendah atau tidak rutin (52,0%). Hasil pemeriksaan menunjukan seluruh responden (100%) memiliki kadar IL-1β di atas ambang batas normal (>5 pg/mL). Yang mengindikasikan bahwa pasien Diabetes Melitus di wilayah Puskesmas Kotobangon mengalami kondisi inflamasi kronis. Kondisi tersebut berisiko memperburuk resistensi insulin serta meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan monitoring klinis berkelanjutan serta penguatan regulasi kepatuhan konsumsi obat untuk menekan aktivitas inflamasi dan mencegah komplikasi, serta mengoptimalkan manajemen kesehatan meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan.