Pola makan remaja yang lebih cenderung tinggi energi, lemak jenuh, dan minuman manis memicu masalah gizi lebih dan obesitas. Kondisi ini menjadi faktor risiko utama terjadinya Diabetes Melitus (DM) tipe 2 di masa mendatang akibat resistensi insulin.Peneletian ini bertujuan gambaran kebiasaan makan dan status gizi (IMT/U) sebagai indikator faktor risiko Diabetes Melitus pada remaja kelas X di SMK Negeri 2 Manado. Jenis Penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional ini dilakukan ...
Pola makan remaja yang lebih cenderung tinggi energi, lemak jenuh, dan minuman manis memicu masalah gizi lebih dan obesitas. Kondisi ini menjadi faktor risiko utama terjadinya Diabetes Melitus (DM) tipe 2 di masa mendatang akibat resistensi insulin.Peneletian ini bertujuan gambaran kebiasaan makan dan status gizi (IMT/U) sebagai indikator faktor risiko Diabetes Melitus pada remaja kelas X di SMK Negeri 2 Manado. Jenis Penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional ini dilakukan pada Mei 2026. Sampel berjumlah 40 siswa kelas X TKJ yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data kebiasaan makan dikumpulkan melalui wawancara Food Frequency Questionnaire (FFQ), sedangkan status gizi ditentukan melalui pengukuran antropometri berat badan dan tinggi badan berdasarkan indikator IMT/U. Analisis data disajikan secara deskriptif melalui distribusi frekuensi dan tabulasi silang. Mayoritas responden berusia 16 tahun (55%) dan berjenis kelamin laki-laki (60%). Berdasarkan FFQ, jenis pangan berisiko yang paling sering dikonsumsi adalah mie instan (52,5% 1–3x/minggu), snack kemasan (25% setiap hari), gorengan (20% setiap hari), dan teh manis (17,5% setiap hari). Secara umum, kebiasaan makan responden berada pada kategori tidak berisiko sebesar 55% dan berisiko 45%. Berdasarkan status gizi IMT/U, sebanyak 55% responden memiliki gizi baik, 25% gizi lebih, 15% obesitas, dan 5% gizi kurang. Hasil tabulasi silang menunjukkan kondisi gizi lebih dan obesitas ditemukan baik pada kelompok kebiasaan makan tidak berisiko (17,5% dan 10%) maupun kelompok berisiko (7,5% dan 5%). Meskipun mayoritas responden memiliki status gizi baik, angka kebiasaan makan berisiko serta prevalensi gizi lebih dan obesitas (total 40%) sebagai faktor risiko DM tipe 2 masih tergolong tinggi. Diperlukan edukasi gizi seimbang secara berkala di lingkungan sekolah.