Gambaran Komunikasi Informasi Edukasi Tentang Persepsi Support Social dan Keyakinan ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif di Desa kalasey 2 Wilayah Kerja Puskesmas Tateli
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan salah satu upaya penting dalam meningkatkan status kesehatan bayi serta menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi. Meskipun berbagai kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) telah dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, cakupan pemberian ASI eksklusif masih belum mencapai target yang diharapkan. Keberhasilan pemberian ASI eksklusif tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan ibu, tetapi juga oleh persepsi terhadap dukungan sosial, keyakinan i...
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan salah satu upaya penting dalam meningkatkan status kesehatan bayi serta menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi. Meskipun berbagai kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) telah dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, cakupan pemberian ASI eksklusif masih belum mencapai target yang diharapkan. Keberhasilan pemberian ASI eksklusif tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan ibu, tetapi juga oleh persepsi terhadap dukungan sosial, keyakinan ibu (self-efficacy), serta cues to action yang mendorong ibu dalam mempertahankan pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengalaman ibu mengenai pelaksanaan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), persepsi dukungan sosial, dan keyakinan ibu dalam pemberian ASI eksklusif di Desa Kalasey 2 wilayah kerja Puskesmas Tateli. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview), Focus Group Discussion (FGD), observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive yang terdiri atas delapan ibu sebagai informan utama (dua ibu memberikan ASI eksklusif, dua ibu memberikan ASI parsial, dan empat ibu tidak memberikan ASI eksklusif), dua suami sebagai informan pendukung, serta satu bidan sebagai informan kunci. Analisis data dilakukan melalui proses transkripsi verbatim, membaca berulang, bracketing, horizontalisasi, coding, pengelompokan unit makna, penyusunan tema, dan interpretasi untuk memperoleh makna pengalaman informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan KIE mengenai ASI eksklusif telah dilakukan melalui pelayanan antenatal, kelas ibu hamil, Posyandu, pelayanan nifas, dan konseling individual. Pengalaman ibu menunjukkan bahwa informasi yang diberikan tenaga kesehatan umumnya mudah dipahami, namun belum sepenuhnya mampu mengatasi hambatan yang dihadapi selama proses menyusui. Dukungan sosial dari suami, keluarga, dan tenaga kesehatan berperan penting dalam membentuk keyakinan ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Ibu yang memperoleh dukungan emosional, informasional, instrumental, dan penghargaan secara konsisten cenderung lebih mampu mempertahankan pemberian ASI eksklusif. Sebaliknya, ibu yang kurang mendapatkan dukungan lebih mudah mengalami keraguan, memberikan ASI parsial, atau menghentikan pemberian ASI eksklusif sebelum bayi berusia enam bulan. Selain itu, self-efficacy dan cues to action berupa motivasi dari tenaga kesehatan, dukungan keluarga, pengalaman menyusui, serta kondisi kesehatan bayi menjadi faktor yang memperkuat keputusan ibu dalam mempertahankan pemberian ASI eksklusif.