Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan yang cukup tinggi di Indonesia, terutama disebabkan oleh rendahnya asupan zat besi. Salah satu upaya pencegahan anemia dapat dilakukan melalui pengembangan pangan fungsional berbasis bahan lokal yang kaya zat gizi, seperti tempe dan bayam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap nugget tempe dan bayam sebagai alternatif cemilan untuk pencegahan anemia pada remaja putri di Poltekkes Kemenkes Manado Jurusan Gizi...
Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan yang cukup tinggi di Indonesia, terutama disebabkan oleh rendahnya asupan zat besi. Salah satu upaya pencegahan anemia dapat dilakukan melalui pengembangan pangan fungsional berbasis bahan lokal yang kaya zat gizi, seperti tempe dan bayam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap nugget tempe dan bayam sebagai alternatif cemilan untuk pencegahan anemia pada remaja putri di Poltekkes Kemenkes Manado Jurusan Gizi. \\r\\nJenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode uji organoleptik menggunakan dua perlakuan, yaitu P1 (tempe 80 gram dan bayam 45 gram) dan P2 (tempe 90 gram dan bayam 35 gram). Penilaian dilakukan oleh 25 panelis yang terdiri dari panelis agak terlatih dan tidak terlatih, dengan parameter yang dinilai meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur. \\r\\nHasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P2 lebih disukai dibandingkan P1 pada seluruh parameter organoleptik. Persentase tingkat kesukaan tertinggi pada P2 adalah warna (28%), aroma (40%), rasa (64%), dan tekstur (40%). Nilai rata-rata uji hedonik menunjukkan bahwa P2 memiliki skor lebih tinggi (4,27) dibandingkan P1 (4,05), yang termasuk dalam kategori suka. Maka dari itu Nugget tempe dan bayam dapat menjadi alternatif camilan bergizi untuk mendukung pencegahan anemia pada remaja putri.