Kadar asam urat yang tinggi (hiperurisemia) dalam jangka panjang berisiko memicu pengendapan kristal monosodium urat di dalam ginjal, yang dapat memicu kerusakan jaringan. Oleh karena itu, pemeriksaan kadar kreatinin serum menjadi sangat penting dilakukan sebagai indikator utama untuk memantau fungsi filtrasi glomerulus ginjal pada penderita tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar kreatinin serum pada penderita asam urat di RS Dr. J. H. Awaloei - Manado. Metode penelit...
Kadar asam urat yang tinggi (hiperurisemia) dalam jangka panjang berisiko memicu pengendapan kristal monosodium urat di dalam ginjal, yang dapat memicu kerusakan jaringan. Oleh karena itu, pemeriksaan kadar kreatinin serum menjadi sangat penting dilakukan sebagai indikator utama untuk memantau fungsi filtrasi glomerulus ginjal pada penderita tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar kreatinin serum pada penderita asam urat di RS Dr. J. H. Awaloei - Manado. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan desain Cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang di diagnosis dokter mengidap hiperurisemia tanpa penyakit penyerta (diabetes mellitus dan GGK), yang berjumlah 50 orang. Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling, yang disaring dari data rekam medis pasien penderita asam urat tinggi yang datang memeriksakan diri ke rumah sakit yaitu dari poliklinik, rawat inap dan IGD. Pengukuran kadar kreatinin dilakukan menggunakan metode Jaffe (tanpa kompensasi) dengan alat BioSystem Bts 350 Semi-Automatic. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik responden mayoritas memiliki kelompok umur 55-64 tahun (30%), dan berjenis kelamin perempuan (56%). Berdasarkan karakteristik klinis dan gaya hidup, sebanyak 44% responden mengalami obesitas dan 40% di antaranya memiliki lama menderita penyakit berkisar antara 1-3 tahun, serta memiliki komorbid Hipertensi (48%). Selain itu, mayoritas responden tidak mengonsumsi obat (60%), tidak memiliki riwayat keluarga (62%), tidak mengonsumsi alkohol (84%), serta tidak melakukan olahraga rutin (84%). Hasil pemeriksaan kadar kreatinin menunjukkan bahwa kadar tinggi ditemukan pada 28% responden laki-laki, sedangkan kadar normal ditemukan pada 32% responden perempuan.