Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan tidak menular dengan angka morbiditas tinggi di wilayah kerja Puskesmas Teling Atas, Kota Manado, termasuk Lingkungan IX Kelurahan Teling Atas. Penatalaksanaan hipertensi pada lansia menghadapi berbagai tantangan, seperti penurunan kondisi fisik, ketidakpatuhan pengobatan, pola konsumsi tinggi natrium, keterbatasan ekonomi, serta akses pelayanan kesehatan. Dalam keluarga, ibu sebagai primary caregiver memiliki peran penting dalam pemeliharaan kes...
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan tidak menular dengan angka morbiditas tinggi di wilayah kerja Puskesmas Teling Atas, Kota Manado, termasuk Lingkungan IX Kelurahan Teling Atas. Penatalaksanaan hipertensi pada lansia menghadapi berbagai tantangan, seperti penurunan kondisi fisik, ketidakpatuhan pengobatan, pola konsumsi tinggi natrium, keterbatasan ekonomi, serta akses pelayanan kesehatan. Dalam keluarga, ibu sebagai primary caregiver memiliki peran penting dalam pemeliharaan kesehatan lansia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemberdayaan ibu dalam penatalaksanaan hipertensi pada lansia dengan mengeksplorasi persepsi manfaat, persepsi hambatan, dan efikasi diri berdasarkan Health Belief Model (HBM). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Informan berjumlah 14 orang yang dipilih melalui purposive sampling, terdiri dari enam ibu sebagai caregiver utama, enam lansia, satu petugas puskesmas pemegang program lansia, dan satu kader kesehatan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif pasif, dan Focus Group Discussion (FGD), kemudian dianalisis secara manual menggunakan analisis tematik model Colaizzi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hambatan geografis berupa topografi perbukitan dan biaya transportasi, hambatan budaya berupa kebiasaan konsumsi makanan tinggi natrium dan MSG, hambatan struktural berupa beban peran ganda ibu, serta hambatan psikologis pada lansia. Efikasi diri ibu tinggi dalam pemberian obat, tetapi rendah dalam penerapan diet rendah garam dan mobilisasi kontrol. Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD), diterapkan tiga program pemberdayaan terintegrasi, yaitu Kelas Memasak Sehat Rendah Garam dengan pemanfaatan rempah lokal, Grup WhatsApp Pengingat berbasis kader, dan layanan pemeriksaan tekanan darah door-to-door oleh tim PTM Puskesmas. Evaluasi pascaintervensi menunjukkan peningkatan efikasi diri ibu, berkurangnya hambatan dalam penatalaksanaan, hilangnya trauma lansia terhadap pemeriksaan tekanan darah, berkurangnya konflik domestik, serta peningkatan efisiensi waktu pengasuh. Selain itu, tekanan darah sistolik lansia menunjukkan penurunan dan kestabilan. Pemberdayaan ibu melalui pendekatan praktis, digital, dan layanan jemput bola terbukti efektif dalam mendukung penatalaksanaan hipertensi yang patuh, mandiri, dan berkelanjutan di tingkat keluarga.