Berat badan lebih merupakan kondisi penumpukan lemak tubuh yang berlebih akibat ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi, salah satunya dipengaruhi oleh konsumsi makanan dengan beban glikemik tinggi. Bbeban glikemik (BG) mengukur dampak makanan mengandung karbohidrat terhadap kadar glukosa darah berdasarkan jumlah karbohidrat dan indeks glikemik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beban glikemik dari konsumsi makanan harian pada mahasiswa obesitas di Jurusan Gizi Poltekkes...
Berat badan lebih merupakan kondisi penumpukan lemak tubuh yang berlebih akibat ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi, salah satunya dipengaruhi oleh konsumsi makanan dengan beban glikemik tinggi. Bbeban glikemik (BG) mengukur dampak makanan mengandung karbohidrat terhadap kadar glukosa darah berdasarkan jumlah karbohidrat dan indeks glikemik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beban glikemik dari konsumsi makanan harian pada mahasiswa obesitas di Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Manado.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian berjumlah 25 mahasiswa dengan kelebihan berat badan dan obesitas berdasarkan nilai Indeks Masa Tubuh (IMT). Data diperoleh melalui wawancara dan food recall 2x24 jam untuk mengetahui jumlah asupan karbohidrat, indeks glikemik, dan perhitungan beban glikemik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 84% responden memiliki asupan karbohidrat dalam kategori baik, sementara 16% lainnya tergolong dalam kategori berlebih. Berdasarkan beban glikemik, sebanyak 68% responden berada dalam kategori sedang, 20% dalam kategori rendah, dan 12% dalam kategori tinggi.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun sebagian besar asupan karbohidrat tergolong baik, konsumsi makanan dengan beban glikemik sedang hingga tinggi masih mendominasi. Oleh karena itu, diperlukan edukasi mengenai pemilihan makanan rendah indeks dan beban glikemik untuk mendukung pengelolaan berat badan dan pencegahan komplikasi jangka panjang.