Mahasiswa menghadapi tekanan akademik dan non-akademik yang dapat memicu stres, yang pada gilirannya dapat memengaruhi pola makan dan status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan status gizi pada mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Manado. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 78 mahasiswa yang diambil menggunakan teknik stratified random sampling. Tingkat stres diukur menggunakan k...
Mahasiswa menghadapi tekanan akademik dan non-akademik yang dapat memicu stres, yang pada gilirannya dapat memengaruhi pola makan dan status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan status gizi pada mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Manado. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 78 mahasiswa yang diambil menggunakan teknik stratified random sampling. Tingkat stres diukur menggunakan kuesioner DASS 42 dan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki tingkat stres normal (39,7%), namun lebih dari separuh mengalami stres di atas normal. Status gizi normal ditemukan pada 44,9% responden, sementara sisanya menunjukkan variasi dari underweight hingga obesitas II. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan status gizi (r = -0,103; p = 0,369). Namun, terdapat korelasi signifikan antara stres, kecemasan, dan depresi. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan status gizi mahasiswa. Namun, tingginya prevalensi stres menunjukkan pentingnya intervensi untuk menjaga kesehatan mental mahasiswa.