Masalah gizi balita merupakan isu kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian khusus, karena berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendapatan keluarga dengan status gizi balita di Desa Tombasian Atas. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 26 balita beserta keluarganya, yang dipilih menggunakan teknik purposive s...
Masalah gizi balita merupakan isu kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian khusus, karena berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendapatan keluarga dengan status gizi balita di Desa Tombasian Atas. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 26 balita beserta keluarganya, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, serta pengukuran antropometri, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi baik berdasarkan indikator BB/U (84,6%), PB/U (57,7%), dan BB/PB (84,6%). Ditemukan pula bahwa balita dari keluarga berpendapatan sedang dan tinggi cenderung memiliki status gizi yang lebih baik, terutama pada indikator panjang badan menurut umur (PB/U), di mana balita dari keluarga berpendapatan rendah lebih banyak mengalami gizi pendek. Sebaliknya, risiko gizi lebih mulai tampak pada kelompok dengan pendapatan lebih tinggi. Kesimpulannya, terdapat hubungan antara tingkat pendapatan keluarga dengan status gizi balita, khususnya dalam aspek pertumbuhan jangka panjang. Upaya intervensi gizi dan edukasi tentang pola makan sehat perlu diarahkan secara tepat, baik kepada keluarga berpendapatan rendah untuk mencegah gizi kurang, maupun kepada keluarga berpendapatan tinggi agar terhindar dari risiko gizi lebih.