Aplikasi Evidance Based Nursing Terapi Dingin Cryotherapy Terhadap Penurunan Skala Nyeri Pada Pasien Fraktur Tertutup Dengan Pendekatan Teori Katharine Kolcaba Di IGD Trauma RSUP Prof. Dr.R.D Kandou Manado
Latar Belakang: Fraktur merupakan istilah dari hilangnya kontinuitas tulang, baik yang bersifat total maupun sebagian yang biasanya disebabkan oleh trauma, terjadinya suatu fraktur total atau sebagian ditentukan oleh kekuatan, sudut dan tenaga, keadaan tulang, serta jaringan lunak di sekitar tulang. Penderita fraktur biasanya mendapatkan dampak negatif yaitu nyeri, akibat dari penyakit yang dideritanya tersebut. Mengatasi masalah nyeri pada pasien fraktur dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu sec...
Latar Belakang: Fraktur merupakan istilah dari hilangnya kontinuitas tulang, baik yang bersifat total maupun sebagian yang biasanya disebabkan oleh trauma, terjadinya suatu fraktur total atau sebagian ditentukan oleh kekuatan, sudut dan tenaga, keadaan tulang, serta jaringan lunak di sekitar tulang. Penderita fraktur biasanya mendapatkan dampak negatif yaitu nyeri, akibat dari penyakit yang dideritanya tersebut. Mengatasi masalah nyeri pada pasien fraktur dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu secara farmakologis dan secara non farmakologis. Terapi dingin (cold teraphy) merupakan terapi modalitas yang dapat menyerap suhu jaringan sehingga terjadi penurunan suhu jaringan melewati mekanisme konduksi. Efek fisiologisterapi dingin (cold teraphy) disebabkan oleh penurunan suhu jaringan yang mencetuskan perubahan hemodinamislokal dan sistemik serta adanya respon neuromuscular. Tujuan: Menganalisa Evidance Based Nursing (EBN) efektifitas terapi dingin cryotherapy terhadap penurunan skala nyeri pada pasien fraktur tertutup dengan pendekatan teori Katharine Kolcaba di IGD Trauma RSUP Prof DR.R.D. Kandou Manado. Metode: Desain pada penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus sebanyak 4 responden pasien fraktur tertutup berdasarkan kriteria inklusif dan ekslusif. Hasil: Pasien pertama mengalami fraktur femur dan mengeluhkan nyeri berat pada skala 5 saat tiba di IGD. Setelah intervensi cryotherapy, nyeri berkurang menjadi skala 3. Pasien kedua, datang ke IGD mengeluh nyeri setelah kecelakaan lalu lintas (skala 7) dan berkurang menjadi 5 pasca terapi. Pasien ketiga, yang mengalami trauma langsung pada ekstremitas bawah, mencatat penurunan skala nyeri dari 5 menjadi 3. Sementara itu, pasien keempat dengan fraktur femur menunjukkan penurunan skala nyeri dari 6 ke 4. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cryotherapy merupakan intervensi non farmakologis yang efektif, praktis, dan dapat diandalkan dalam pelayanan gawat darurat. Keberhasilan penerapan pada keempat pasien menunjukkan pentingnya mempertimbangkan aspek kenyamanan dalam perencanaan intervensi keperawatan.