Intervensi Elevasi Kepala 30 Derajat Terhadap Penurunan Nyeri Dengan Teori Katherine Kolcaba Pada Pasien Cedera Kepala Ringan Di IGD Trauma RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado
Latar Belakang: Cedera kepala adalah cedera mekanik yang merusak kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak, dan kerusakan jaringan otak itu sendiri, serta gangguan neurologis yang menimbulkan sensasi nyeri di kepala. Nyeri sering kali menjadi gejala utama gangguan muskuloskeletal, yang dapat berupa pengalaman sensorik atau emosional akibat kerusakan jaringan, baik yang nyata maupun potensial, dan dapat timbul secara mendadak atau perlahan-lahan. Penelitian ini bertujuan untuk ...
Latar Belakang: Cedera kepala adalah cedera mekanik yang merusak kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak, dan kerusakan jaringan otak itu sendiri, serta gangguan neurologis yang menimbulkan sensasi nyeri di kepala. Nyeri sering kali menjadi gejala utama gangguan muskuloskeletal, yang dapat berupa pengalaman sensorik atau emosional akibat kerusakan jaringan, baik yang nyata maupun potensial, dan dapat timbul secara mendadak atau perlahan-lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Intervensi Elevasi Kepala 30 Derajat Terhadap Penurunan Nyeri Dengan Teori Katherine Kolcaba Pada Pasien Cedera Kepala Ringan di IGD Trauma RSUP Prof, Dr, R.D. Kandou Manado. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan desain Case Study (Studi Kasus) pada 4 responden melalui teori Katherine Kolcaba dengan menerapkan intervensi elevasi 30 derajat dan penilaian nyeri, selama 30 menit dalam 1 (satu) hari menggunakan skala nyeri numeric rating scale (NRS). Hasil: Berdasarkan hasil studi kasus pada empat sampel menunjukan bahwa terdapat penurunan nyeri yang signifikan setelah melakukan intervensi elevasi kepala 30 derajat pada pasien cedera kepala. Kesimpulan: Intervensi yang dilakukan pada pasien dengan cedera kepala ringan, elevasi kepala 30 derajat terbukti efektif menurunkan skala nyeri pada pasien cedera kepala ringan yang dirawat di instalasi gawat darurat trauma, dengan penurunan intensitas nyeri yang signifikan setelah intervensi dilakukan.