Diabetes mellitus tipe II merupakan penyakit kronis yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, salah satunya adalah ulkus diabetikum. Luka kronis ini sering kali sulit sembuh akibat hiperglikemia yang memperburuk sirkulasi darah dan memperlambat regenerasi jaringan. Berdasarkan Riset kesehatan dasar (Rikesdas, 2018), prevalensi diabetes di indonesia mencapai 10,6%, dan di kabupaten Bolaang mongondow sebesar 1,26%. Di Puskesmas Boroko sendiri, tercatat 135 kasus diabetes mellitus per maret 2025,...
Diabetes mellitus tipe II merupakan penyakit kronis yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, salah satunya adalah ulkus diabetikum. Luka kronis ini sering kali sulit sembuh akibat hiperglikemia yang memperburuk sirkulasi darah dan memperlambat regenerasi jaringan. Berdasarkan Riset kesehatan dasar (Rikesdas, 2018), prevalensi diabetes di indonesia mencapai 10,6%, dan di kabupaten Bolaang mongondow sebesar 1,26%. Di Puskesmas Boroko sendiri, tercatat 135 kasus diabetes mellitus per maret 2025, dengan kasus ulkus diabetikum yang membutuhkan penanganan luka berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode perawatan luka menggunakan dressing madu pada pasien diabetes mellitus dengan ulkus diabetikum, serta mengevaluasi efektivitasnya dari segi penyembuhan luka dan keterlibatan keluarga dalam perawatan.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Perawatan luka dilakukan setiap hari menggunakan madu sebagai balutan, disertai edukasi keluarga mengenai teknik perawatan dan tanda-tanda infeksi. Evaluasi dilakukan harian hingga hari ke 5.
Hasil implementasi menunjukan adanya perbaikan signifikan pada luka pasien: bau luka berkurang, jaringan nekrotik menurun, dan terbentuknya jaringan granulasi baru. Keterlibatan keluarga dalam perawatan meningkat dari tidak tahu menjadi mampu melakukan perawatan dasar secara mandiri. Edukasi dan pemantauan berperan penting dalam meningkatkan efektivitas terapi. Metode dressing madu efektif digunakan dalam perawatan ulkus diabetikum karena mempercepat penyembuhan luka, mengurangi gejala infeksi, dan mudah diterapkan di lingkungan rumah. Pelibatan keluarga dalam proses perawatan terbukti membantu keberhasilan terapi.