Tuberkulosis paru merupakan jenis penyakit infeksisus menular melalui udara berupa droplet yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyerang sistem pernapasan, terutama pada bagian paru. Salah satu masalah yang sering didapati pada klien tuberculosis yakni masalah dyspnea yang dapat diatasi dengan penerapan posisi semi fowler. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai penerapan posisi semi fowler pada pasien tuberkulosis paru untuk mengatasi dyspnea denga...
Tuberkulosis paru merupakan jenis penyakit infeksisus menular melalui udara berupa droplet yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyerang sistem pernapasan, terutama pada bagian paru. Salah satu masalah yang sering didapati pada klien tuberculosis yakni masalah dyspnea yang dapat diatasi dengan penerapan posisi semi fowler. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai penerapan posisi semi fowler pada pasien tuberkulosis paru untuk mengatasi dyspnea dengan mengidentifikasi dan melakukan pengakajian pada pasien tuberkulosis paru dengan masalah dyspnea, merumuskan dan menetapkan diagnosa keperawatan, membuat perencanaan tindakan keperawatan, melaksanakan implementasi keperawatan penerapan posisi semi fowler, dan melakukan evaluasi terhadap tindakan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan untuk menggambarkan penerapan posisi semi fowler pada kasus pasien tuberkulosis paru dengan masalah dyspnea. Penelitian ini menggunakan instrument yang meliputi format pengkajian asuhan keperawatan medikal bedah, format obeservasi respiratory rate, standar operasional prosedur, dan alat pemeriksaan tanda-tanda vital selama masa penelitian dari 13 Mei 2025 sampai 15 Mei 2025 di Pavilliun Yehezkiel RSU GMIM Pancaran Kasih Manado. Berdasarkan hasil pengkajian dengan keluhan sesak napas yang dirasakan klien, maka didapati masalah pola napas tidak efektif, sehingga peneliti melakukan tindakan penerapan posisi semi fowler selama 2 kali dalam sehari dengan durasi 30 menit selama 3 hari. Berdasarkan hal tersebut disimpulkan terjadi perubahan respiratory rate pada pasien tuberkulosis paru dengan masalah dyspnea. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan dan sumber informasi untuk menambah wawasan, meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan pengetahuan, dan menjadi pedoman dan referensi untuk mengatasi dyspnea