Diare merupakan masalah kesehatan utama pada anak di dunia. Diare adalah suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya. Perubahan yang terjadi berupa perubahan peningkatan perubahan volume, keenceran dan frekuensi dengan atau tanpa lendir, darah, seperti lebih dari 3 kali/hari (Suntin dkk, 2021). Penanganan diare selain menggunakan teknik farmakoterapi terdapat juga terapi komplementer yang dapat digunakan yaitu dengan memberikan madu. Manfaat madu untuk mengatasi...
Diare merupakan masalah kesehatan utama pada anak di dunia. Diare adalah suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya. Perubahan yang terjadi berupa perubahan peningkatan perubahan volume, keenceran dan frekuensi dengan atau tanpa lendir, darah, seperti lebih dari 3 kali/hari (Suntin dkk, 2021). Penanganan diare selain menggunakan teknik farmakoterapi terdapat juga terapi komplementer yang dapat digunakan yaitu dengan memberikan madu. Manfaat madu untuk mengatasi diare karena efek antibakterinya dan kandungan nutrisinya yang mudah dicerna. Madu juga membantu dalam penggantian cairan tubuh yang hilang akibat diare (Suntin dkk, 2021). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui implementasi terapi komplementer madu pada anak penderita diare di paviliun ester rs gmim pancaran kasih. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dalam bentuk studi kasus yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang implementasi terapi komplementer madu pada anak penderita diare dalam menurunkan frekuensi diare di paviliun ester rsu gmim pancaran kasih manado. Hasil yang didapatkan pada studi kasus ini, yaitu adanya penurunan frekuensi diare pada An. J.D, frekuensi diare sebelum dilakukan terapi dan sesudah dilakukan terapi komplementer yaitu, BAB lebih dari 3 kali sehari menjadi 1 kali sehari, muntah berhenti, pucat menurun, Mukosa bibir lembab, demam menurun, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital pada Tn. J.K : tekanan darah = 105/82mmHg, nadi = 110x/menit, suhu badan = 36,7℃, respirasi = 28x/menit,dengan hasil secara umum kondisi kesehatan pasien sudah mulai membaik, maka intervensi dihentikan dan pasien menjalani rawat jalan. Pada implementasi terapi komplementer madu dalam menurunkan frekuensi diare dapat dilihat bahwa diare telah teratasi